Senin, 31 Januari 2011

Beni, big brain

Hari ini rapor semester 1 anak kelas 2 smp dibagikan ke orang tua anak masing-masing. Begitu pula dengan Beni dan Rudi yang orang tuanya juga datang untuk mengambil rapor mereka. Sambil menunggu selesainya pembagian rapor Beni dan Rudi duduk-duduk sambil bercerita. "Hah, raporku pasti merah lagi. tidak seperti rapormu yang tidak pernah merah. Setiap pengambilan rapor pasti nilaiku yang paling jelek diantara semuanya." keluh Beni. "Asal kamu mau rajin belajar pasti rapormu tidak akan ada yang merah, tenang saja aku pasti akan selalu membantumu." kata Rudi memberi semangat. Tapi Beni kelihatannya tidak begitu menanggapinya. Pembagian rapor selesai, orang tua masing-masing keluar dari ruang kelas dan menghampiri anaknya, ada yang bermuka senang dan ada juga yang bersedih hati.
Begitu ayahnya keluar Beni sudah tau nilai di rapornya dari raut muka ayahnya itu, dalam hatinya dia tau kalau ia akan dimarahi ayahnya. Tapi kali ini ayahnya menghampirinya dan tersenyum kepadanya, "Ben, kalau nilai di rapor ini sudah merupakan usaha terbaikmu, ayah tidak akan memarahimu." Beni menangis mendengar kata-kata ayahnya, ia tau ayahnya sangat kecewa dengan nilainya tersebut dan selalu malu dihadapan guru-guru dan orangtua temannya yang lain. Tapi ia juga tidak dapat berbuat apa-apa, dalam hatinya ia berjanji akan berusaha lebih giat lagi untuk belajar. Dari jauh dilihatnya Rudi sedang gembira disambut orangtuanya, Beni merasa senang melihat kebahagianan temannya tetapi juga merasa iri kepadanya, dalam hatinya Beni juga ingin seperti Rudi yang bisa memberikan kegembiraan kepada orangtuanya dalam pembagian rapor. Setelah itu Beni pun pulang ke rumah dengan ayahnya.
Sesampainya di rumah Beni langsung mengunci diri di kamar. Walaupun ayahnya tidak memarahinya kali ini tetapi rasa bersalah di hati Beni sangat membuat ia tidak terkendali. Ia langsung mengobrak-abrik buku-buku dan perlengkapan sekolahnya. Ia merasa sangat kesal kenapa ia masih mendapatkan nilai rendah padahal ia sudah berusaha belajar dengan rajin setiap harinya. Akhirnya ia mengurung diri dikamar sampai malam tanpa mau keluar untuk makan sekalipun. Ibu Beni sangat khawatir tapi ia tau apa yang dirasakan anaknya itu memang sangat menyedihkan. Ia tidak tau apa yang harus dilakukan selain menelpon Rudi, teman Beni yang paling akrab dengannya untuk dapat membujuk Beni keluar kamar. Rudi pun segera datang ke rumah Beni, ia mengetok pintu kamar Beni dan mencoba membujuk Beni agar ia dapat masuk dan berbicara dengannya. Tapi dari dalam kamar Beni tidak memberi respon apa-apa. Mengetahui hal itu ayah Beni jadi khawatir dan langsung mendobrak pintu kamar Beni hingga terbuka. Ternyata Beni hanya ketiduran. Tapi melihat isi kamarnya yang berantakan hari orangtua Beni tidak dapat tenang begitu saja. Mereka khawatir Beni terlalu stres karena nilainya. Karena Beni tidak apa-apa Rudi pun pamit pulang.
Keesokan harinya libur setelah pembagian rapor pun dimulai, waktu libur ini berkisar 2 minggu agar anak-anak bisa menghilangkan kejenuhan mereka sejenak setelah menghadapi ujian. Pagi-pagi sekali setelah sarapan Rudi langsung datang ke rumah Beni untuk menjenguk Beni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar